Keuangan Pribadi

Saat Standar Orang Lain Masuk ke Dompet Kita

Tim Atur Dompet - 12 September 2026
ATUR DOMPET • FOMO & SOCIAL PRESSURE

Saat Standar Orang Lain Masuk ke Dompet Kita

Keputusan finansial tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang mampu kita beli, tetapi juga oleh bagaimana kita menilai posisi diri dibandingkan dengan orang lain.

⚠️ Disclaimer:

Artikel ini bersifat edukasi dan informasi umum, bukan nasihat keuangan personal. Pengaruh social comparison, FOMO, dan lingkungan sosial terhadap keputusan finansial tidak selalu sama pada setiap orang. Kondisi finansial, tujuan, pengalaman, karakteristik individu, dan konteks keputusan dapat membuat respons seseorang berbeda.

Kita mungkin pernah melihat seseorang membeli sesuatu bukan karena barang itu tiba-tiba menjadi kebutuhan.

Saat standar orang lain masuk ke dompet kita..
Mungkin sebelumnya barang tersebut biasa saja. Tetapi setelah melihat orang lain memilikinya, menggunakannya, atau menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari, barang itu terasa sedikit berbeda.

Bukan hanya barangnya yang berubah dalam pandangan kita.

Standar tentang apa yang terlihat wajar, menarik, atau layak dimiliki juga bisa ikut bergeser.

Di sinilah keputusan finansial bertemu dengan sesuatu yang lebih psikologis: cara kita melihat diri sendiri ketika dibandingkan dengan orang lain.

Pertanyaannya bukan apakah kita boleh melihat kehidupan orang lain.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

“Kapan melihat standar orang lain berhenti menjadi referensi dan mulai ikut memengaruhi keputusan di dompet kita?”

Baca juga

Untuk melihat mengapa keputusan finansial tidak hanya ditentukan oleh teori, kondisi nyata, dan pilihan yang tersedia, baca Mengapa Keputusan Keuangan Tidak Sesederhana Teori?.

Ketika Hidup Orang Lain Mulai Menjadi Cermin

Dalam situasi tertentu, kita menggunakan orang lain sebagai bahan pembanding.

Kita melihat apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka menjalani hidup, atau keputusan yang mereka ambil, lalu secara sadar maupun tidak sadar menggunakannya sebagai informasi tentang posisi diri sendiri.

Perbandingan semacam ini tidak selalu berhubungan dengan rasa iri.

Orang lain dapat menjadi sumber informasi, inspirasi, atau sekadar pembanding untuk memahami apakah pilihan kita masih terasa sesuai dengan keadaan yang kita jalani.

Masalahnya mulai menarik ketika pembanding tersebut masuk ke wilayah konsumsi dan keputusan finansial.

Apa yang sebelumnya terasa cukup dapat mulai terlihat kurang.

Apa yang sebelumnya terasa istimewa dapat mulai terlihat biasa.

Dan apa yang sebelumnya tidak terpikirkan dapat mulai masuk ke dalam daftar pertimbangan.

Membandingkan Diri Tidak Selalu Berarti Iri

Dalam psikologi, social comparison menggambarkan kecenderungan manusia menggunakan orang lain sebagai bahan untuk mengevaluasi diri.

Arah dan konteks perbandingan dapat berbeda.

Kita bisa melihat seseorang yang berada di atas posisi kita dan menjadikannya sumber aspirasi. Kita juga bisa membandingkan diri dengan orang yang berada pada kondisi yang terasa lebih dekat.

Penelitian eksperimen menunjukkan bahwa upward social comparison dalam kondisi tertentu dapat berkaitan dengan meningkatnya orientasi materialistik dan kecenderungan terhadap pengeluaran yang terlihat oleh publik. Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap perbandingan dengan orang yang dianggap lebih baik otomatis menghasilkan keinginan untuk membeli.

Respons seseorang tetap bergantung pada konteks dan bagaimana perbandingan tersebut ditafsirkan.

Ketika Kondisi Keuangan Mulai Dinilai Secara Relatif

Uang tetap memiliki ukuran yang objektif.

Rp5 juta tetap Rp5 juta. Pengeluaran Rp3 juta tetap Rp3 juta.

Tetapi penilaian seseorang terhadap kesejahteraan finansialnya tidak selalu hanya dibentuk oleh angka absolut tersebut.

Dalam penelitian terhadap data Indonesia, social comparison tidak ditemukan memiliki pengaruh langsung terhadap kepuasan hidup dan kebahagiaan. Hubungannya lebih banyak muncul melalui subjective financial well-being.

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa membandingkan diri dengan orang lain tidak harus langsung berujung pada perubahan perilaku konsumsi.

Perbandingan dapat terlebih dahulu memengaruhi cara seseorang menilai kondisi finansialnya sendiri.

Dengan demikian, kondisi keuangan objektif dan pengalaman subjektif terhadap kondisi tersebut perlu dibedakan.

Orang Lain Bisa Menjadi Reference Point

Dalam teori pilihan konsumen, reference point membantu menjelaskan mengapa nilai suatu pilihan tidak selalu dinilai secara berdiri sendiri.

Apa yang pernah kita miliki, apa yang sedang kita alami, atau standar yang kita lihat dapat menjadi titik pembanding.

Orang lain adalah salah satu kemungkinan sumber reference point, bukan satu-satunya.

Karena itu, ketika seseorang melihat gaya hidup tertentu berulang kali, yang mungkin berubah bukan hanya keinginannya terhadap satu barang.

Yang juga dapat berubah adalah titik pembanding untuk menilai apakah sebuah pengeluaran terasa rendah, wajar, atau tinggi.

Inti Gagasannya

Sesuatu yang terasa “wajar” dalam pengeluaran tidak selalu hanya ditentukan oleh kemampuan membeli, tetapi juga oleh titik pembanding yang kita gunakan.

Ketika Perbandingan Mulai Membawa Emosi

Perbandingan sosial tidak selalu berhenti sebagai proses berpikir.

Dalam kondisi tertentu, perbandingan dapat disertai emosi seperti rasa tertinggal, cemas tidak ikut mengalami sesuatu, atau takut kehilangan kesempatan.

Salah satu istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan pengalaman tersebut adalah Fear of Missing Out atau FOMO.

Penelitian mengenai consumer-centric FoMO menunjukkan bahwa dimensi FOMO tertentu berkaitan dengan kecenderungan konformitas dan konsumsi yang lebih terlihat secara sosial. Tetapi hubungan tersebut berbeda menurut bentuk FOMO dan konteks konsumsi.

Jadi, FOMO lebih tepat dipahami sebagai pengalaman psikologis yang dapat memengaruhi cara seseorang merespons pilihan sosial, bukan sebagai tombol otomatis yang mengubah rasa takut tertinggal menjadi transaksi.

Media Sosial Membuat Referensi Terasa Lebih Dekat

Media sosial membuat kehidupan, pilihan, dan pencapaian orang lain lebih sering hadir di hadapan kita.

Dalam konteks tertentu, frekuensi paparan seperti ini dapat membuat standar orang lain terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penelitian di Indonesia memberikan gambaran yang menarik. Studi terhadap 248 Gen Z di Jawa Timur yang mengikuti influencer dan aktif menggunakan e-commerce menemukan hubungan positif antara imitasi influencer, social comparison, FOMO, materialisme, dan niat pembelian dalam model yang diteliti.

Namun, sampel tersebut bersifat purposive dan berfokus pada kelompok tertentu. Temuan itu tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa semua pengguna media sosial di Indonesia akan merespons dengan cara yang sama.

Penelitian korelasional lain terhadap pengguna TikTok di Indonesia juga menemukan hubungan antara konsumsi TikTok, materialisme, dan orientasi perbandingan sosial.

Artinya, media sosial layak dipertimbangkan sebagai konteks. Tetapi hubungan tersebut tetap perlu dibaca bersama karakteristik pengguna dan situasi keputusan.

Tidak Semua Perbandingan Berakhir di Keranjang Belanja

Tetapi sampai di sini kita perlu berhenti sebentar.

Kalau semua temuan tadi disusun terlalu sederhana, kita mungkin tergoda membuat satu kesimpulan: membandingkan diri dengan orang lain akhirnya membuat seseorang membeli lebih banyak.

Penelitian tidak sesederhana itu.

Studi terhadap pengguna Shopee di Indonesia menemukan bahwa social comparison tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap impulse buying. Hubungan tersebut justru muncul melalui materialisme sebagai mediator.

Temuan lain pada pengguna iPhone Gen Z di Indonesia juga menunjukkan bahwa FOMO tidak berpengaruh signifikan terhadap niat membeli kembali, sementara materialisme memiliki hubungan yang signifikan dengan niat tersebut.

Di sisi lain, penelitian tentang informasi pengeluaran teman sebaya menunjukkan bahwa informasi mengenai pengeluaran orang lain dapat mendorong sebagian konsumen bergerak mendekati pola pengeluaran kelompok pembanding. Studi tersebut secara khusus mengisolasi saluran informasi peer spending, sehingga tidak boleh disamakan begitu saja dengan social pressure.

Gambaran sederhananya

Bayangkan seseorang yang selama ini merasa pengeluaran makan Rp20 ribu sudah cukup. Setelah mengetahui bahwa kelompok yang sering berinteraksi dengannya biasa mengeluarkan lebih banyak, angka yang sebelumnya terasa wajar bisa mulai terlihat berbeda. Ini bukan berarti ia pasti akan mengikuti pola tersebut, tetapi penelitian tentang informasi pengeluaran teman sebaya menunjukkan bahwa informasi semacam itu dapat memengaruhi sebagian konsumen untuk bergerak mendekati pola pengeluaran kelompok pembanding.

Perbedaan hasil seperti ini justru penting.

Ia mengingatkan kita bahwa hubungan antara social comparison, FOMO, dan keputusan konsumsi dapat melibatkan variabel lain di tengahnya.

Ketika Standar Orang Lain Bertemu dengan Ruang Finansial

Pada akhirnya, standar sosial tidak pernah berdiri sendiri.

Keputusan tetap bertemu dengan kondisi keuangan yang nyata.

Seseorang mungkin melihat mobil yang lebih mahal, liburan yang lebih sering, atau kebiasaan makan di tempat tertentu. Tetapi keputusan untuk mengikutinya tetap berhadapan dengan pendapatan, kewajiban, tujuan, tabungan, utang, dan ruang finansial yang tersedia.

Karena itu, kemampuan membeli dan keputusan yang sesuai dengan tujuan keuangan bukanlah hal yang selalu identik.

Sesuatu dapat terjangkau secara nominal, tetapi belum tentu menjadi prioritas.

Sebaliknya, pengeluaran yang lebih besar juga tidak otomatis berarti keputusan yang buruk jika memang sesuai dengan tujuan dan ruang finansial seseorang.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah standar yang kita lihat mulai mengambil ruang yang sebelumnya dialokasikan untuk tujuan lain.

Kotak Refleksi

Sebelum mengikuti standar yang baru terlihat, coba berhenti sebentar:

  • Ini memang sudah saya inginkan sebelum melihat pilihan orang lain, atau baru terasa menarik setelah melihatnya?
  • Kalau saya membelinya, tujuan keuangan atau pos lain apa yang ikut kehilangan ruang?
  • Kalau tidak ada yang tahu saya memiliki atau menggunakan ini, apakah saya masih menginginkannya?

Pertanyaan ini bukan tes untuk menentukan keputusan yang benar atau salah. Fungsinya hanya membantu memisahkan keinginan pribadi dari pengaruh konteks sosial.

Cara melihat ruang finansial dan konteks keputusan ini berkaitan dengan pembahasan Ketika Uang Menjadi Tekanan: Bagaimana Financial Stress Mengubah Keputusan?.

Referensi, Inspirasi, atau Tekanan?

Tidak semua pengaruh dari orang lain harus diberi nama “tekanan”. Dalam keputusan finansial, hal yang sama-sama kita lihat dapat memiliki fungsi yang berbeda.

Yang kita lihat Kemungkinan fungsi dalam keputusan
Pencapaian orang lainInspirasi
Cara orang mengelola uangInformasi
Gaya hidup orang lainReference point
Perbedaan kondisiBahan evaluasi
Takut tertinggalFOMO
Dorongan untuk ikutSocial pressure

Satu pengalaman juga dapat menjalankan lebih dari satu fungsi; yang berubah adalah bagaimana pengalaman tersebut ditafsirkan dan digunakan dalam keputusan.

Tabel tersebut bukan klasifikasi ilmiah yang berlaku untuk setiap situasi. Ia hanya membantu membedakan beberapa kemungkinan fungsi dari apa yang kita lihat.

Ketika Standar Orang Lain Masuk ke Dompet Kita

Kita mungkin tidak bisa berhenti melihat kehidupan orang lain. Namun, kita masih bisa memilih apakah apa yang kita lihat akan menjadi informasi, inspirasi, atau standar baru bagi keputusan kita sendiri.

Sebab keputusan finansial tidak hanya berhenti pada apa yang kita inginkan.

Ada pertanyaan lain yang muncul setelahnya:

Uang yang kita miliki ini sebenarnya kita anggap sebagai uang untuk apa?

Dua orang bisa memiliki jumlah uang yang sama, tetapi memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Sebagian uang mungkin terasa “boleh” digunakan untuk bersenang-senang, sementara bagian lain terasa harus tetap disimpan.

Padahal, secara nominal, semuanya berasal dari sumber daya yang sama.

Di titik inilah cara kita memberi “kotak” pada uang mulai menjadi menarik.

Standar orang lain akan selalu hadir di sekitar kita. Pertanyaannya bukan bagaimana cara menutup mata terhadapnya, tetapi bagaimana kita memutuskan apakah standar itu memang layak mendapat ruang di dompet kita.

Mengapa uang bonus terasa berbeda dari gaji? Mengapa uang cashback kadang terasa lebih mudah dibelanjakan? Dan mengapa kita bisa begitu ketat pada satu pos, tetapi lebih longgar pada pos lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada pembahasan berikutnya tentang Mental Accounting—cara pikiran kita memberi kategori dan perlakuan berbeda terhadap uang yang secara nominal sebenarnya tetap merupakan bagian dari sumber daya kita.

Artikel Terkait

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah reference point dalam keputusan keuangan selalu berasal dari orang lain?

Tidak. Titik pembanding dapat berasal dari pengalaman masa lalu, kondisi saat ini, harapan terhadap masa depan, atau konteks konsumsi tertentu. Jika pengalaman konsumsi mulai mengubah standar pengeluaran, proses tersebut juga dapat dilihat dalam pembahasan tentang Self-Gifting: Saat Hadiah Mengubah Standar Hidup.

Bagaimana membedakan ketika pilihan orang lain menjadi inspirasi dengan ketika kita merasa harus mengikutinya?

Salah satu petunjuknya adalah ruang untuk memilih. Inspirasi masih menyisakan kemungkinan untuk mengatakan “menarik, tetapi belum tentu cocok untuk saya”. Tekanan terasa berbeda ketika pilihan tersebut mulai dipersepsikan sebagai sesuatu yang harus diikuti agar tidak merasa tertinggal atau tidak sesuai dengan lingkungan.

Sumber & Referensi

Catatan:
sumber internasional digunakan sebagai dasar teori dan evidence utama. Studi Indonesia digunakan sebagai pembanding kontekstual, bukan sebagai bukti bahwa pola yang sama berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia. Perbedaan sampel, metode, produk, dan konteks perlu diperhitungkan saat membaca temuan.

Ditulis oleh: Tim Atur Dompet
Diperbarui: • Edukasi, bukan nasihat keuangan personal.